Regulasi MotoGP

Pro-Kontra Sprint Race di Kalangan Pembalap MotoGP

Regulasi balap MotoGP tahun depan mengganti sesi latihan keempat menjadi sesi Sprint Race. RedBull CP
Regulasi balap MotoGP tahun depan mengganti sesi latihan keempat menjadi sesi Sprint Race. RedBull CP

Autogear.id - Pemberlakuan aturan baru MotoGP untuk sesi Sprint Race mulai musim kompetisi 2023 nanti, bukan hanya menjadi perdebatan di kalangan netizen. Namun di kalangan pembalap pun, ternyata tak semuanya mendukung rencana pemberlakuan aturan baru itu. Meski demikian, tak sedikit juga yang benar-benar pro dengan apa yang didiskusikan oleh tiga lembaga terkait di bidangnya itu.

Terdapat dua pembalap yang menganggap bahwa keputusan yang dilakukan oleh regulator di MotoGP ini, adalah sebuah hal yang membuat pembalap lebih berisiko. Meski pada dasarnya ini menggantikan sesi latihan bebas keempat.

"Memang jarak tempuhnya mungkin sama dengan sesi latihan bebas keempat. Tapi jika berbicara tentang risiko dan besarnya tenaga yang Anda harus keluarkan untuk balapan, 14 lap di sesi race itu takkan sama dengan 14 lap di sesi latihan bebas. Bersyukur mereka tak mengubah format sesi kualifikasi dan masih menggunakan hasil kualifikasi di sesi race pada Minggunya," komentar Fabio Quartararo yang terlihat tak sepakat dengan keputusan Sprint Race itu.

Kemudian ada juga Aleix Espargaro. Ia berpendapat sama dengan Quartararo soal manajemen risiko. "Saya rasa ini bukan solusi yang tepat jika kita berbicara soal bagaimana membuat balapan ini menjadi lebih hidup, termasuk di sesi hari Sabtu. Tapi risikonya terlalu tinggi, kami melakukan 44 kali grid start dalam semusim rasanya terlalu banyak."

Baca Juga:
Anti 'Melintir-Melintir' Club, Fitur AYC Bikin New Xpander Cross jadi SUV Tulen

Namun bagi Jack Miller, Johann Zarco, Joan Mir dan adik kandung Alex Espargaro yaitu Pol Espargaro, menganggap bahwa ini adalah ide yang bagus dan patut didukung. "Saya suka ini, ini jadi bonus untuk melakukan yang berbeda. Ya meski cuma setengah dari sistem poin yang diberikan dan tak termasuk ke dalam poin kejuaraan untuk menentukan juara dunia, tapi di sinilah Anda dapat melakukan semuanya dengan maksimal. Tak perlu khawatir dengan ban aus, bensin habis dan lainnya. Maksimalkan yang ada rasanya itu yang terbaik," ujar MIller.

"Sebenarnya ini sangat menarik, jadi tantangan yang bagus. Kita bisa lihat balap Superbike yang menggelar beberapa sesi balapan dan itu sangat menarik, jadi mengapa ide ini tak dilakukan juga di MotoGP. Rasanya ini akan menarik bagi masyarakat yang ingin menonton langsung ke sirkuit. Saya cuma ingin jika memungkinkan poinnya disamakan saja dengan sesi race Minggu," imbuh Zarco.

"Saya sangat menyukasi sesi latihan bebas di hari Jumat, karena kami bisa melakukan sesi latihan dan mencetak waktu tercepat dan nantinya dikombinasikan dan dipilih 10 pembalap tercepat yang langsung lolos ke sesi kualifikasi kedua. Namun di sesi latihan ketiga, itu sama saja melakukan sesi kualifikasi awal rasanya tak menyenangkan. JIka melakukan race dua kali, tentu tantangannya berat, tapi kita harus coba," papar Mir. 

"Awalnya saya menolak, tapi setelah mereka menjelaskan secara detail rasanya ini patut dicoba. Ada benefit yang jelas bisa diambil. Memang pada dasarnya pembalap, pemilik tim, mekanik harus berkorban untuk waktu dan materi yang lebih. Tapi jika dengan cara ini kita bisa meningkatkan serunya balapan MotoGP, rasanya sponsor akan lebih berani untuk melakukan investasi di ajang balap ini. Memang tidak ada salahnya mencoba ini, tapi harus dijelaskan secara detail apa benefitnya," papar Pol Espargaro.


(uda)