Autogear.id – Yamaha mengakui adanya tantangan, untuk tetap bertahan menjaga performa penjualan di area Kalimantan. Kendati demikian, hingga saat ini market share Yamaha di Kalimantan masih tetap tumbuh sekitar 0,9-2 persen, jika dibandingkan tahun lalu.
Hal tersebut diutarakan Chief Yamaha Area Kalimantan, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Khusnul Faris, di sela-sela kegiatan touring Yamaha ‘MAXi Tour Boemi Nusantara: Borneo Journey’, di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu (4/7/2026).
Lanjut Faris, pertumbuhan ini berlaku di semua area Kalimantan. Sehingga cukup mendorong Yamaha untuk terus bersemangat, tetap bisa bertahan dan menjaga performa sampai akhir tahun.
Sejauh ini kontribusi terbesar, yang menjadi tulang punggung Yamaha di wilayah Kalimantan adalah keluarga MAXi. “Jadi acara MAXi Tour Boemi Nusantara ini cukup bagus dan kuat imej-nya di Kalimantan, sangat membantu menjaga performa MAXi series kita,” tukasnya.
Tetapi, selain MAXi series, ada pula kontributor penopang pasar Yamaha dan menjadi market uniknya Kalimantan, yaitu Moped series. Yamaha MX King diklaim Faris penjualannya juga terbaik di Kalimantan. “Penjualan MX King di Kalimantan, merupakan salah satu fondasi terhadap penjualan nasional,” tegasnya.
Itu semua tentu bukan tanpa alasan, apalagi kalau dilihat dari kondisi dan infrastruktur di Kalimantan. Seperti diketahui MX King merupakan motor manual, dan sangat cocok untuk infrastruktur yang ada di Pulau Borneo ini.

“Kecenderungan konsumen di area perkebunan belum siap dengan teknologi matic-nya. Sehingga motor konvensional dibutuhkan, ditambah lagi perbaikannya yang relatif lebih gampang,” jelas Faris.
Melihat situasi dan kondisi di Kalimantan, maka Yamaha Motor Indonesia menyesuaikan strategi. Tim harus lebih kreatif untuk bisa melihat peluang yang ada di market.
Caranya antara lain dengan memetakan area yang memang terdampak langsung dengan industri pertambangan, dan area yang tidak terdampak langsung. Pada area yang terdampak langsung, Yamaha akan berfokus kepada para konsumen dengan fixed income.
“Tentunya industri selain pertambangan juga masih ada di sini. Sebut saja misalnya sektor logistik, jasa dan lain sebagainya. Nah ini semua menjadi fokus perhatian kami,” imbuhnya.
Fakta di lapangan juga menunjukkan kalau harga Sawit mulai kembali ke angka normal sebelum polemik, yakni di angka sekitar Rp2.800 sampai Rp3.300 per kilo.
Membuat Yamaha Motor Indonesia senantiasa optimistis bahwasanya market di Kalimantan tetap bisa tumbuh, terutama sampai dengan semester kedua nanti.
(uda)
